MARI MENJELAJAHI SEMUA tentang

BALLA LOMPOA

Latar Sejarah

Sebagai pusat aktivitas kerajaan, Balla Lompoa memiliki fungsi strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan, musyawarah adat, serta pelaksanaan berbagai upacara resmi. Di tempat ini raja dan para pembesar kerajaan mengambil keputusan penting terkait politik, ekonomi, dan hubungan diplomatik dengan kerajaan lain. Keberadaannya memberikan gambaran mengenai struktur sosial dan tata kelola pemerintahan tradisional masyarakat Gowa.

Koleksi dan Artefak Penting

Sebagai museum, Balla Lompoa menyimpan berbagai koleksi bersejarah, antara lain:

1. Mahkota dan perhiasan kerajaan
2. Keris dan senjata tradisional
3. Naskah kuno dan dokumen istana
4. Benda upacara adat
5. Atribut kerajaan dan simbol kekuasaan

Koleksi tersebut menjadi sumber informasi penting untuk memahami struktur sosial, sistem nilai, dan dinamika budaya Kerajaan Gowa.

Arsitektur dan Karakter Bangunan

Balla Lompoa dibangun dengan gaya arsitektur tradisional Makassar berbentuk rumah panggung. Material utamanya berupa kayu ulin dan kayu besi yang dikenal kuat dan tahan lama. Struktur bangunan terdiri dari ruang depan sebagai area penerimaan tamu, ruang tengah untuk kegiatan adat dan pemerintahan, serta ruang belakang sebagai area privat keluarga kerajaan sekaligus tempat penyimpanan benda-benda pusaka. Setiap bagian bangunan mencerminkan kebijaksanaan lokal dalam merancang rumah yang fungsional,

Sultan Alauddin (Raja Gowa ke-14)

Sultan Alauddin adalah raja pertama yang memeluk Islam pada tahun 1605. Di masanya, Gowa mulai berubah dari kerajaan tradisional menjadi kesultanan. Ia juga memperkuat hubungan perdagangan dengan bangsa asing dan dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dalam diplomasi. Keputusan beliau menerima Islam menjadikan Gowa pusat penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.

Sultan Hasanuddin (Raja Gowa ke-16)

Tokoh paling terkenal dari Kerajaan Gowa, dijuluki “Ayam Jantan Dari Timur”. Ia dikenal karena sikapnya yang tidak mau tunduk pada VOC dan melakukan perlawanan besar pada Perang Makassar (1660–1669). Hasanuddin sangat disegani karena keberanian, kemampuan strategi perang, dan keteguhan membela kedaulatan daerah.

Sultan Amir Hamzah (Raja Gowa ke-17)

Ia naik takhta setelah Sultan Hasanuddin turun. Pemerintahannya berlangsung pada masa sulit setelah kekalahan Gowa dalam peperangan melawan VOC. Amir Hamzah berperan menjaga agar kerajaan tetap stabil walau banyak wilayah dan kekuasaan telah berkurang.

Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin (Raja Gowa ke-35)

Ia merupakan raja Gowa pada masa modern ketika kerajaan sudah tidak memiliki kekuasaan politik, tetapi tetap dihormati sebagai simbol budaya. Di masa beliau, Balla Lompoa mulai difungsikan sebagai pusat kegiatan adat dan pelestarian sejarah Kesultanan Gowa.

Sultan Muhammad Abdul Kadir Aiduddin (Raja Gowa Ke-36)

Sultan Gowa terakhir di bawah administrasi Indonesia dan menjadi bupati pertama Kabupaten Gowa saat bergabung menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kesultanan dibubarkan tahun 1957 dan ia menjabat sebagai Bupati hingga 1960.

Tetap Terhubung dengan Kami

Mari Berkreasi Bersama

Hubungi kami untuk mengetahui bagaimana kami dapat mewujudkan visi Anda. Bergabunglah dengan kami dalam membentuk masa depan.

+62 82198710436